Sabtu, 18 September 2010

Pembakaran Alquran Ternyata Jadi Dilakukan

Pembakaran Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones, pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata oleh pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat, Sabtu (11/9) silam.
Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan. Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan segelintir orang, yang sebagian besar dari media.
Seperti dilansir Detroit News, ternyata pembakaran Alquran juga terjadi di . Sebuah Alquran dibakar di depan pusat ajaran Islam di kota tersebut.

Ryanne Nason, seorang cendekiawan Amerika Serikat, seperti dilansir sebuah koran lokal Mainecampus, Kamis (15/9), menyebut bahwa pembakaran yang dilakukan oleh sejumlah orang sangat menyedihkan dan memalukan. Di AS, negara yang dibentuk pada keyakinan kebebasan beragama, setiap orang diberikan hak untuk mempraktikkan agama yang mereka yakini, seperti Yudaisme, Islam, Kristen, atau tidak menganut agama sama sekali. Dengan membakar Alquran atau kitab suci agama lain, bayangan seluruh bangsa lain membuat AS adalah negara tanpa kelas dan tidak etis.
Sungguh ironis bahwa Terry Jones atau Bob Old merasa memiliki perlindungan berdasarkan amandemen pertama untuk membakar kitab suci agama lain yang ia tidak percaya. Padahal semua muslim di AS dilindungi oleh undang-undang konstitusional yang sama. Hal ini akan memeberikan cela pada reputasi Amerika.
Menurut Ryanne, orang beragama menggunakan moral yang kuat dan nilai-nilai, namun sekarang orang mendiskreditkan keyakinan mereka karena bersifat menghakimi dan intoleransi. Salah satu dari banyak alasan mengapa kita memiliki pasukan di Irak dan adalah untuk melawan penindasan dan penganiayaan agama terhadap penduduk negara di negara tersebut. Namun, saat ini ternyata warga negara Amerika sendiri yang melecehkan agama lain.Di Chicago, Mohammed Kaiseruddin, Dewan Direksi Pusat Ajaran Islam memberikan gambaran terhadap pembakaran Alquran yang sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianutnya. Ia mengatakan kepada Huffington Post hari ini, "Kami merasa seperti kita sudah menjadi korban. Ketika kami memegang Alquran, kami memperlakukannya dengan sangat hormat. Kami tidak pernah menaruh salinan Alquran di lantai. Sejak kecil, kami selalu mengingatkan anak-anak untuk menghormati kitab suci ini. Kami juga mengajarkan kepada mereka ketika selesai membaca Alquran, mereka menutup dan menciumnya, lalu menyimpannya". (Huffington Post/Mainecampus/Detroitnews/DES/IAN).

Jumat, 17 September 2010

Pertemuan di Ujung Jalan Kedua

langkah kakkiku menderu. aku tak tahu apa yang sedang kucari. aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulakukan. aku mencarinya. mencari sesosok manusia yang kutemui kemarin di ujung jalan ini. Aku membawa bungkusan untuknya.

tepat pukul 10 malam. Sejam lebih cepat dibandingkan semalam. Aku berdiri sendiri di ujung jalan ini. Nafas tersengal. Hampir putus asa karena tak menemukan sosok yang semalam kutemui disini. Ketakutan menyergapku tatkala aku sadar bahwa hanya ada aku sendiri di ujung jalan ini. Bagaimana bila hal buruk menimpaku.

Aku mencoba berbalik pulang. Tiba-tiba sosok tubuh dingin memelukku dari belakang. Hampir saja aku berteriak jika ia tidak menyumbal mulutku.

“ini aku.”bisiknya.

Ia tak melepaskan dekapannya. Aku tidak nyaman.

“Kenapa baru datang? Aku sudah menunggu lama. Dingin”protesnya

“Aku membawa makanan dan jaket untukmu”

Ia melepaskan dekapannya. Aku lega. Sepertinya ia tertarik dengan apa yang ku bawa untuknya. Ku ajak ia duduk di bawah sorot lampu jalan.

“Apa kau masih suka makanan ini, Gung?”

Tak ada jawaban. Sorot matanya datar. Namun Aku kaget saat ia menyambar makanan itu dan melahapnya.

Semenit… dua menit… makanan itu sudah tak bersisa. Senyum menggulung di bibirnya. Datar.

“ini jauh lebih enak dari saat kau membuatkannya untuk yang pertama kalinya”

Aku senang. Tak kusadari, aku tersenyum.“bahkan sekarang senyummu jauh lebih indah”

Aku menatap ke dalam matanya..lekat..aku benar-benar kehilangan sorot mata yang dulu meneduhkanku. Ia menggenggam tanganku. Dingin. Kuraih jaket yang tadi kubawa bersama makanan itu. Kupasangkan di bahunya. Ia menolak.

“kenapa?”tanyaku.

Ia kembali menatapku. Dalam. Aku tak mengerti. Diam. Ia berbalik. Menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Huk.. uhuk…

Aku batuk. Aku sangat peka bau rokok. Tak kusadari Kuraih rokok itu dari mulutnya dan membuangnya jauh-jauh.

“masih membenci rokok?”

Aku tak menyahut. Diambilnya sebatang lagi. Tapi tak disulutnya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

“aku juga membenci rokok, Ra. Tapi hanya rokok yang bisa jadi temanku. Kau tahu, Ra.. Aku kehilangan harapanku kuliah di Jawa. Aku terdampar di kota ini. Sudah hampir 2 tahun”

“Kau kuliah?”
Ia diam. Tapi sejurus kemudian ia mengangguk.

“Di Universitas mana?”
Ia kembali Diam.

“kau tinggal dimana?”
Masih diam.

“Jawab aku, Gung”

“aku tak sehancur yang kau fikirkan, Ra.”

“Ikutlah denganku, Gung”ajakku.

Dia berbalik menatapku. Sinis. Sekarang aku tahu ia masih dengan sifatnya yang dulu. Tak mau mengharap bantuan orang lain.

“Kau mau tinggal denganku? Apa kau sudah tidak peduli dengan apa yang akan orang katakan?”

“tidak. Bukan begitu. Aku akan mencari tempat tinggal untukmu. Meskipun masih kuliah, aku juga bekerja. Kalau kau butuh sesuatu, bilang padaku.”

“tak usah repot-repot. aku bisa tinggal di mana pun aku mau.”

Emosiku memuncak. Aku mendekatinya.

“Gung, aku benar-benar tak mengerti apa yang kau pikirkan.”

Ia sedikit tersenyum. Sinis. Apa artinya itu. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku celana pendeknya.

“Bacalah.”

Aku meraih kertas itu. Ia mengecup pipiku.

“Sampai jumpa.”

Ia memungut jaket yang tadi kuberikan untuknya. kemudian berlalu. Aku terpaku. Segera membuka kertas yang tadi diserahkannya. Sebuah surat yang ditulis oleh Agung. Aku tahu jelas tulisannya.



Kepada yang tersayang, Amira.

Aku senang bisa melihatmu. Tapi kemudian aku harus pergi dengan meninggalkan teka teki untukmu. Aku malu. Aku malu padamu. Aku tak semestinya datang padamu sekarang. Aku semestinya datang dengan mobil mewah dan jas berdasi. Tapi aku terpaksa. Aku hanya ingin memastikan kau masih milikku. Sungguh, diri ini sangat takut kehilanganmu. Bersabarlah, Amira. Saat itu akan datang. Aku akan kembali untukmu. Aku sedang berusaha menjadi orang yang sukses sekarang. Kau pun begitu, kan?

Dari orang yang berharap padamu, Agung.



Aku membaca surat itu sekali lagi. Air mataku menetes tanpa kusadari. Kulipat kembali dan kumasukkan ke saku bajuku. Kupandangi jalan yang tadi ditempuh oleh Agung. Di ujung jalan, gelap. Tapi aku bisa lihat jelas jejak yang ditinggalkannya. Cukup lama. Lalu aku berbalik pulang, bersama perasaan yang campur aduk dan misteri yang mengekor di belakangku.

L.O.V.E

Ketika aku mulai membicarakan tentang cinta. Ini pasti akan sulit. Karena aku sama sekali tidak mengerti tentang mereka, atau memiliki pengalaman yang dramatis dengannya. Tapi bagaimana pun juga cinta, tidak dapat dipungkiri, suka atau tidak. Adalah hal yang pasti akan kita hadapi. Hahaha. Aku selalu ingin tertawa jika mengingat kata ini. C-I-N-T-A. Maaf, tapi kalimat itu jadi terdengar begitu murahan di dalam lagu bagindaz. Tapi sedihnya, memang banyak orang Indonesia yang menyukai lagu itu (aku ingat pertama kali mendengar lagu itu, aku sedang berlibur bersama teman-temanku di bandung-berada di dalam mobil sahabatku sisi dan tidak menyangka bahwa lagu norak tersebut sanggup terkenal-haha), bagiku suka-atau tidak adalah hak asasi yang hakiki. Tidak bisa dipaksakan-walau pun kita boleh menyembunyikannya atau menunjukkannya jika kita mau. Seperti rasa cintamu. Banyak manusia yang begitu beruntung dapat menunjukkan rasa cintanya dengan bebas, tetapi sebagian lainnya tidak memiliki kesempatan yang sama. Mereka tidak seberuntung itu-bahkan terkadang mereka tak pernah mampu mengucapkannya. Jika aku coba mengingat siapa cinta pertamaku? Oke, jujur aku belum pernah menemukan pria itu. Selama ini cinta yang kualami belum sampai ketitik itu. Belum ada pria yang kuanggap pantas menyandang gelar “cinta pertama-ku”. Akan lebih mudah menjawab, jika ditanya siapa laki-laki yang pertama kali saya sukai? Siapa laki-laki ini? Siapakah pria ini? Aku harus mencoba sedikit lebih keras untuk mengingatnya.Hem...........(mikir...)mungkin salah satu teman SDku. Namanya adalah Angga (nama samaran). Ini terjadi 10 tahun yang lalu. Bukan perkara mudah memang, aku mengalami banyak masa sulit ketika aku belum genap 10 tahun. Oke tema kita kali ini bukan tentang “masa lalu yang kelam”. Tetapi ya, ini masalah cinta.Aku yang kala itu belum genap 10 tahun, karena alasan yang sangat memaksa harus pindah ke Yogyakarta. Bukan keinginanku memang. Jakarta adalah tanah kelahiranku. Bahkan Mamaku tersayang pun lahir di sini. Kota ini, dengan segala kekurangannya adalah “rumah” bagiku. Ketika itu aku masih duduk di bangku kelas 6 SD, semester II. Bahkan saat aku berangkat kesana, orang tuaku mengatakan hanya untuk menghabiskan liburan semesterku yang panjang. Aku berangkat dengan perasaan senang bukan kepalang, seperti kebanyakan anak kecil normal lain. Aku bisa mengingat dengan jelas hari itu. Aku bahkan tidak sempat berpamitan dengan sahabat2 yang sejak lahir kukenal.  Hal yang paling sulit yang sanggup dihadapi saat kita pindah tempat tinggal adalah memasuki lingkungan sekolah yang baru.. yep. Dan itu lah yang aku hadapi ketika itu. Memasuki sekolah di pedesaan yang jumlah muridnya saja hanya 8 orang per kelas. Bisa kalian bayangkan. Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari yang dialami Ikal dalam laskar pelangi (mereka masih punya 10 murid) Hahaha. Aku sangat ingat, bahwa aku menangis dihari pertamaku masuk sekolah itu-aku menangis, bayangkan! Aku begitu takut-sampai-sampai aku menangis. Untung ngga sampe ngompol dicelana. Ketika itu usiaku belum mampu menerima tekan sehebat itu. Aku adalah seorang anak bontot yang manja, anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara. Bisa kalian bayangkan aku bahkan ngga bisa bahasa JAWA. Dan sebagian dari mereka tidak berbahasa Indonesia dengan baik. (lebih berat ketimbang pindah ke Amerika-lebay).  Teman sekelasku hanya 8 orang. Dan laki-laki bernama Angga (nama samaran) adalah adik kelasku. Bocah kurus kering dan bermata sipit (tapi bukan cina). Aku tidak tahu apa alasanku menyukainya pada awalnya. Yang aku tahu aku hanya tidak pernah bosan berada didekatnya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kepribadiannya yang tidak tahu malu, membuatku tidak pernah merasa canggung.Apa kalian tahu pada masa itu, mereka teman-teman sekolahku di SD tidak tahu apa itu video games, aku lah yang memperkenalkan Playstation 1 ketika itu pada mereka. Kami anak dusun (karena aku telah bergabung bersama mereka) tidak pernah tertarik mainan semacam itu. Tetapi permainan mereka, harus kuakui memang lebih menarik dari kemoderenan mana pun yang tersedia di kota metropolitan. Bersama mereka aku main kasti, mancing di sungai, jalan kaki ke hutan, prosotan di got, mandi di air terjun, berenang di bendungan, petak umpet di kebon orang, becek-becekkan di sawah, mandiin kebo hahaha (I am just a lucky girl u know). Bahkan teman-teman sekolahku bersekolah tanpa alas kaki (alias nyeker). Kalian bisa menghitung siapa yang bersandal dan siapa yang bersepatu. Tetapi tidak untuk yang “nyeker”. Kalian bisa menebak siapa orang tua mereka dengan memandang dari bungkusan telapak kaki mereka.Jika mengingat masa itu, aku meyakini sekarang bahwa Tuhan memang selalu menghadapkanku pada situasi yang luar biasa-Tuhan begitu menyayangiku kawan-dan aku begitu menyayangi-Nya.Aku mengalami stress berat pada minggu-minggu awalku disana. Yang bisa kulihat hanya gunung,gunung,sawah,sawah,hutan,hutan. Damn, aku bahkan tak memiliki 1 pun mini market untuk membeli ice cream. Butuh waktu 1 setengah jam untuk mencapainya di kota purworejo dengan menggunakan sepeda motor. Dan diwarung hanya tersedia es kenyot seharga 100 perak. Dan hanya ada satu warung yang menjualnya di dekat rumahku. (mendingan bikin dikulkas sendiri-hahaha).Aku lagi-lagi menjadi ‘si hitam’ yang aneh dan malang.  Tetapi pernahkah kalian menyadari bahwa masa kecil kita adalah masa yang berjalan paling cepat. Mungkin karena pada saat itu memory kita berputar lebih bersemangat. Mendatangkan hal-hal yang belum pernah kita tahu sebelumnya, dan langsung membuang hal-hal tidak menarik yang telah berlalu. Sedikit sekali memory pada saat itu yang dapat tersimpan dengan baik di dalam sel otak kita saat ini. Tapi kita terbentuk di masa-masa itu. Menjadi siapa kita sekarang. Tidak bisa kupungkiri, seburuk apapun aku bahagia. Karena aku anak-anak, memikirkan segala masalah dengan cara anak-anak.Dan masa-masa itu pun membentuk siapa saya sekarang. Siapa saya yang kalian kenal.Aku tahu kalian semua juga pasti memiliki masa kecil tersendiri. Seburuk apa pun-tetapi kita harus menerimanya dengan cara yang terbaik.  Back to topic...Aku hanya bersekolah untuk 3 bulan di SD itu, tetapi aku mengalami banyak hal disana. Walau pun setelahnya aku menghadapi ujian nasional dan berganti seragam dari putih-merah ke putih-biru. Tetapi disanalah aku menemukan laki-laki pertama yang aku suka. Sampai detik ini aku masih bisa melihatnya-bahkan kami bersekolah di SMP yang sama dulu. Walau pun kami tidak lagi saling bicara ketika sama-sama dewasa(entah mengapa-mungkin karena aku takut bahwa dia bukan lagi “anak kecil kurus kering bermata sipit” yang kukenal). Mungkin dia tidak lagi seramah dulu.  Kalian tahu aku menyukainya karena dia adalah murid pertama di sekolahku, yang tersenyum padakudihari pertamaku bersekolah. Kalian tahu bahwa kedatanganku disekolah terpencil itu dianggap begitu heboh. Dan dia adalah orang pertama yang melongok dari jendela kelas dan menyunggingkan senyum polosnya sambil menggodaku, dan membuatku merasa diterima disana. Mungkin tak banyak orang tahu-bahwa senyumannya mempengaruhi kepercayaan diriku dihari-hariku setelahnya.Aku hanya tidak ingin merusak kenangan “terbaik” yang kumiliki ketika itu. Oke, mungkin aku hanya tidak mau menjadi orang pertama yang “menyapa”-aku terlalu gengsi. Aku perempuan. Oke itu bukan alasan yang bagus. Lupakan.  Pada intinya, dia adalah laki-laki yang pertama kali yang kusukai. Dan bagaimana dengan kalian? Siapa anak perempuan atau laki-laki yang pertamakali kalian suka? Aku ingin sekali kalian bisa share di sini teman-teman. Hanya untuk lucu-lucuan saja.Cinta tidak selalu harus serius bukan.Cinta juga sering kali mempermainkanmu.Tetapi aku hanya meyakini satu hal.  Bahwa cinta selalu mampu membuatmu tertawa dengan cara yang terbaik. Jika cintamu tidak dapat melakukannya, maka tinggalkan saja. Karena itu bukan cinta.Itu bukan cinta yang datang dari Tuhan. Itu cinta yang kalian karang sendiri. Manusia sering sekali mengarang banyak hal “baik” karena takut menghadapi kemungkinan “terburuk”. Aku bisa memakluminya-karena aku juga sering kali melakukannya.Tetapi aku yakin perasaan suka yang pertama kali timbul dalam hati kalian adalah perasaan cinta yang paling murni. Murni karena kesederhanaannya.Aku harus jujur, bahwa sepanjang aku menulis tulisan ini, aku selalu tertawa sendiri. Ini jam 2 pagi, tapi aku masih sanggup tersenyum sendiri. Ini tulisan yang membahagiakan, mengenang masa-masa itu membuatku bahagia.  Semoga setiap diantara kalian teman2. Bisa menemukan orang yang dapat melengkapi kalian. Menerima kalian secara utuh dalam suka mau pun duka. Menemani kalian disaat kulit kalian kencang maupun keriput. Menyayangi kalian saat ini dan sampai nanti tiba. Mendoakan yang terbaik bagi kalian saat nafas masih berjalan mau pun ketika berhenti tertarik. Menghargai kalian sebagai makhluk yang terbaik yang pernah Tuhan persatukan. Aku sungguh berdoa dengan segenap hatiku. Amin.  Dan untuk Angga.. aku akan menyapamu-ketika kita berpapasan lagi nanti. HahaDan terimakasih untuk senyumanmu hari itu-karena aku belum pernah sempat mengatakannya.  GoodMorning everybody.Find your love now..My ownroom 2.27 am 18 July 2010(tidak ada satu orang pun sebelumnya yang tahu kisah ini-tapi ini bukan hal memalukan yang tidak bisa kuceritakan pada kalian-jangan bosan ya)

MISTERI MEJA GURU

Bu Anita sangat piawai dalam mengajar. Namun setiap dia mengajar selalu meminta muridnya, terutama Siska, ketua kelas III C untuk menyediakan kursi lain sebagai tempat duduknya. Padahal kursinya sudah tersedia, yaitu di belakang meja guru. Tasnya juga tidak disimpan di sana, tapi di meja murid paling depan. Ulah guru matematika itu mengundang pertanyaan besar bagi Siska. Karena guru lainnya tidak berulah seperti itu.

Waktu istirahat Siska mencoba menduduki kursi itu. Namun tiba-tiba keanehan muncul. Taplak meja guru tersebut terbuka dengan sendirinya. Siska terkejut. Namun belum sempat dia tersadar, keanehan lain muncul. Permukaan meja itu penuh dengan darah. Kejadian itu disampaikan pada Melly dan Mona. Kedua teman dekat Siska itu penasaran dan mencoba menduduki kursi itu. Kejadian yang sama muncul, membua keduanya yakin.

Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan seorang wanita, seusia Bu Anita dengan seragam guru. Wanita itu mengucapkan terima kasih, karena Siska telah mencoba duduk di kursi guru. Berikutnya, wanita itu meminta agar Siska mau membantunya. Pagi harinya Siska menceritakan mimpinya. Ternyata mimpi itu dialami juga oleh Melly dan Mona. Mimpi itu mengundang pertanyaan besar bagi Siska, Melly dan Mona. Ketiganya yakin bahwa meja guru itu menyimpan misteri.

Rasa penasaran muncul. Ketiganya sepakat untuk mencari jawabannya. Namun mereka tidak tahu apa yang dilakukan. Hasil diskusi, mereka merencanakan untuk mencoba duduk di kursi itu lagi. Saat melaksanakan rencana itu, keanehan lain muncul. Tak hanya darah, tetapi juga dalam tersebut duduk seorang wanita dengan tubuh lunglai dengan kepala di meja yang dipenuhi darah. Ketiganya semakin yakin bahwa meja itu memang menyimpan misteri.

Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan wanita yang sama. Dalam mimpi itu, selain meminta bantuan kepada Siska juga memberikan sebuah jalan untuk mengungkap misteri itu. Sebuah file yang tersimpan di komputer ruang guru. Paginya Siska menceritakan mimpi itu pada Melly dan Mona. Keduanya juga bermimpi yang sama. Hasil diskusi mereka sepakat untuk membuka file tersebut. Sebuah rencana telah disusunnya.

Sore hari, setelah Mang Diman menyimpan kunci di ruang administrasi, Siska mengambilnya. Malam harinya, Siska, Melly dan Mona beraksi. Ketiganya masuk ke sekolah melalui sebuah jalan. Tanpa diketahui Mang Diman yang kebetulan sedang ngontrol, mereka masuk ke ruang guru, kemudian menghidupkan komputer. Namun mereka bingung, karena file itu tidak ditemukan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kemunculan seorang wanita yang datang dalam mimpinya. Wanita itu muncul untuk menunjukan filenya.

Sampai di rumah mereka membuka file itu yang disimpan dalam flashdisk. Misteri meja guru terungkap. Darah pada meja adalah darah Bu Astri yang dibunuh Mang Diman. Penjaga sekolah itu sengaja disuruh Bu Anita untuk membubuhkan racun ke dalam gelas minum Bu Astri. Bu Anita tahu kalau wanita yang konon telah merebut pacarnya itu selalu meminum usai pelajaran berakhir. Sampai kini semua guru tidak mengetahui keberadaan Bu Astri. File ini ditulis karena Bu Astri mengetahui rencana pembunuhan itu.

Siska, Melly dan Mona menyerahkan hard copy kepada kepala sekolah. Kepala sekolah baru mengetahui kalau perebutan pacar antara Bu Anita dan Bu Astri dulu berbuntut dengan pembunuhan. Kini Bu Anita dan Mang Diman harus menanggung seluruh perbuatannya. Kepala sekolah akan mengambil tindakan tegas setelah keduanya terbukti bersalah dalam pengadilan nanti. Bahkan seluruh muridpun berdemo untuk tidak menerima Bu Anita lagi.

================= SELESAI ======================

Kamis, 16 September 2010

OBAMA DAN TUKANG BECAK

Paimin memarkir becaknya di samping becak Pakde Kamto.Dia masuk ke warung nasi. Nampak Pakde Kamto, kakek berusia 70 tahun, sedang duduk disana sambil menghisap rokok klobot kegemaran beliau. Paimin pun duduk mendekati Pakde Kamto. “Sudah lama Pakde? “ kata Paimin sembari dia memesan kopi ke pemilik warung.“Lumayan lama, Min…”.“Tadi saya dapet penumpang bule lho Pakde… Lumayan mbayarnya agak banyak…, jadi Pakde pesen makan apa aja biar saya yang traktir…”“Halah ra usah ,Min..simpen aja, aku masih ada uang, nanti saja kalo aku butuh juga utang ke kamu hehehe..” Pakde Kamto terkekeh memerkan gusinya yang sudah tak bergigi itu. Kakek-kakek itu kembali berkata“..ngomong-ngomong soal bule, aku jadi inget waktu aku muda dulu ketika aku masih narik becak di daerah Menteng, Min…, tahun tujuhpuluhan dulu, aku punya langganan bule, seorang ibu2, dan anaknya…” Pakde Kamto berhenti sejenak menghisap rokoknya lalu berkata lagi, “Tiap pagi aku mengantarkan mereka ke sekolah anaknya itu, Cuma sekarang aku jadi mulai mikir..”“Mikir apa to Pakde? “sahut Paimin sambil menyeruput kopinya“Lha iya, kok sekarang foto bule itu sama anaknya yang kulitnya hitam itu, sering muncul di televisi, itu lho yang jadi presiden Amerika, Barak obama…”“Hah ! gleg..guhuk huk..huk..” Paimin tebatuk-batuk tersedak kopinya“minumnya pelan-pelan Min, .. “ Pakdhe Kamto menepuk-nepuk punggung Paimin. Setelah batuknya reda Paimin menatap takjub ke arah Pakde Kamto. Dengan rasa ingin tahu yang memuncak dia bertanya“ trus…Bagaimana Pakdhe bisa ingat wajah mereka? kan hal itu sudah puluhan tahun yang lalu? ““Lha yo jelas ingat, kan aku jarang dapat penumpang bule, lagi pula aku kan sudah bilang mereka itu langgananku tiap pagi, dan mereka juga pasti ingat sama aku. Ibunya si Barry itu juga sering minta diantarkan ke pasar. Kami sering ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan, orangnya ramah. ....”“Wah, kalau begitu coba aja Pakde hubungi mereka, telpon atau kirim surat…”“Buat apa. Min, malu to yoo…”“Lho Pakde ini gimana, kan itu bisa merubah nasibnya Pakde. Masak sampai kakek-kakek masih mbecak. Lagipula semakin banyak si Obama itu diingatkan saat dia di Indonesia maka nanti dia akan membantu Bangsa kita ini Pakdhe..” ujar Paimin bersemangat sampai otot lehernya keluar.“Membantu bagaimana. Diingatkan Gimana, ngawur kamu itu..Lha wong si Barry itu dulu sering di olok-olok sama temen2nya.. Londo ireng..londo ireng…. gitu. Dia juga pernah diceburin beramai-ramai ke rawa-rawa. Liat aja fotonya di koran-koran waktu sama-sama temen sekelas, disitu kan nampak dia jauh dari gurunya. Aku malah khawatir si Barry itu sakit hati. Kalau diingatkan malah nanti Indonesia di Bom Atom gimana.”“Ah, Pakde Kamto ini terlalu khawatir. Pokoknya Pakde harus menghubungi si Obama. Masalahnya kapan lagi kita bisa menyumbang bagi kemajuan bangsa Indonesia”“Ya aku sih manut aja Min, trus ngirim suratnya piye?”“ Aku punya kenalan Mahasiswa. namanya Samuwel. Dia sering cerita kalau sekarang bisa ngirim surat lewat komputer…Kita minta tolong dia saja Pakde…Sekarang aja yuk pakde, biasanya Samuwel ada di kostnya kalo malam begini…”“Yo wis ayo Min…” Mereka berdua akhirnya meninggalkan warung nasi dan beriringan menggenjot becaknya ke tempat kost sang Mahasiswa Samuwel… Hari-berganti hari, pagi menjadi siang..siang menjadi petang, petang menjadi malam..tak terasa sudah seminggu sejak Pakde Kamto dan Paimin mengirim email ke Obama. Mereka bertemu lagi di warung nasi yang sama .“Min…”“iya Pakdhe…” sahut Paimin acuh tak acuh“besok kalo anakmu lahir laki2 kamu harus kasih nama PRESIDEN…”“ah Pakde ini ada-ada saja…”“lho..iya penting lho. Nanti kalo anakmu sudah besar dan bermasyarakat trus kepilih jadi ketua RT, trus ada acara sambutan ketua RT…nanti MCnya akan ngomong gini : acara selanjutnya sambutan bapak ketua RT kita , waktu dan tempat saya persilahkan kepada bapak PRESIDEN…hehehe..” Pakde Kamto tertawa kerkekeh-kekeh memamerkan gusinya yang tak bergigi itu. Paimin hanya tersenyum mendengar ucapan orangtua yang dia anggap seperti ayahnya sendiri itu“Nama itu sebuah doa, contohnya namaku, Kamto..kalo ditulis dalam bahasa Inggris Come To, makanya hidupku berpindah-pindah,,trus namamu Paimin, kalo dalam bahasa Inggris ditulis… Pa.. I mean….” Tiba-tiba dari kejauhan seorang pemuda keriting berkacamata tebal nampak tergopoh-gopoh berlarian kearah mereka. sambil berteriak-teriak heboh “Paimin…!, Pakde…! ada balasan email dari OBAMAA…!!!”