Jumat, 17 September 2010

Pertemuan di Ujung Jalan Kedua

langkah kakkiku menderu. aku tak tahu apa yang sedang kucari. aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulakukan. aku mencarinya. mencari sesosok manusia yang kutemui kemarin di ujung jalan ini. Aku membawa bungkusan untuknya.

tepat pukul 10 malam. Sejam lebih cepat dibandingkan semalam. Aku berdiri sendiri di ujung jalan ini. Nafas tersengal. Hampir putus asa karena tak menemukan sosok yang semalam kutemui disini. Ketakutan menyergapku tatkala aku sadar bahwa hanya ada aku sendiri di ujung jalan ini. Bagaimana bila hal buruk menimpaku.

Aku mencoba berbalik pulang. Tiba-tiba sosok tubuh dingin memelukku dari belakang. Hampir saja aku berteriak jika ia tidak menyumbal mulutku.

“ini aku.”bisiknya.

Ia tak melepaskan dekapannya. Aku tidak nyaman.

“Kenapa baru datang? Aku sudah menunggu lama. Dingin”protesnya

“Aku membawa makanan dan jaket untukmu”

Ia melepaskan dekapannya. Aku lega. Sepertinya ia tertarik dengan apa yang ku bawa untuknya. Ku ajak ia duduk di bawah sorot lampu jalan.

“Apa kau masih suka makanan ini, Gung?”

Tak ada jawaban. Sorot matanya datar. Namun Aku kaget saat ia menyambar makanan itu dan melahapnya.

Semenit… dua menit… makanan itu sudah tak bersisa. Senyum menggulung di bibirnya. Datar.

“ini jauh lebih enak dari saat kau membuatkannya untuk yang pertama kalinya”

Aku senang. Tak kusadari, aku tersenyum.“bahkan sekarang senyummu jauh lebih indah”

Aku menatap ke dalam matanya..lekat..aku benar-benar kehilangan sorot mata yang dulu meneduhkanku. Ia menggenggam tanganku. Dingin. Kuraih jaket yang tadi kubawa bersama makanan itu. Kupasangkan di bahunya. Ia menolak.

“kenapa?”tanyaku.

Ia kembali menatapku. Dalam. Aku tak mengerti. Diam. Ia berbalik. Menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Huk.. uhuk…

Aku batuk. Aku sangat peka bau rokok. Tak kusadari Kuraih rokok itu dari mulutnya dan membuangnya jauh-jauh.

“masih membenci rokok?”

Aku tak menyahut. Diambilnya sebatang lagi. Tapi tak disulutnya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

“aku juga membenci rokok, Ra. Tapi hanya rokok yang bisa jadi temanku. Kau tahu, Ra.. Aku kehilangan harapanku kuliah di Jawa. Aku terdampar di kota ini. Sudah hampir 2 tahun”

“Kau kuliah?”
Ia diam. Tapi sejurus kemudian ia mengangguk.

“Di Universitas mana?”
Ia kembali Diam.

“kau tinggal dimana?”
Masih diam.

“Jawab aku, Gung”

“aku tak sehancur yang kau fikirkan, Ra.”

“Ikutlah denganku, Gung”ajakku.

Dia berbalik menatapku. Sinis. Sekarang aku tahu ia masih dengan sifatnya yang dulu. Tak mau mengharap bantuan orang lain.

“Kau mau tinggal denganku? Apa kau sudah tidak peduli dengan apa yang akan orang katakan?”

“tidak. Bukan begitu. Aku akan mencari tempat tinggal untukmu. Meskipun masih kuliah, aku juga bekerja. Kalau kau butuh sesuatu, bilang padaku.”

“tak usah repot-repot. aku bisa tinggal di mana pun aku mau.”

Emosiku memuncak. Aku mendekatinya.

“Gung, aku benar-benar tak mengerti apa yang kau pikirkan.”

Ia sedikit tersenyum. Sinis. Apa artinya itu. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku celana pendeknya.

“Bacalah.”

Aku meraih kertas itu. Ia mengecup pipiku.

“Sampai jumpa.”

Ia memungut jaket yang tadi kuberikan untuknya. kemudian berlalu. Aku terpaku. Segera membuka kertas yang tadi diserahkannya. Sebuah surat yang ditulis oleh Agung. Aku tahu jelas tulisannya.



Kepada yang tersayang, Amira.

Aku senang bisa melihatmu. Tapi kemudian aku harus pergi dengan meninggalkan teka teki untukmu. Aku malu. Aku malu padamu. Aku tak semestinya datang padamu sekarang. Aku semestinya datang dengan mobil mewah dan jas berdasi. Tapi aku terpaksa. Aku hanya ingin memastikan kau masih milikku. Sungguh, diri ini sangat takut kehilanganmu. Bersabarlah, Amira. Saat itu akan datang. Aku akan kembali untukmu. Aku sedang berusaha menjadi orang yang sukses sekarang. Kau pun begitu, kan?

Dari orang yang berharap padamu, Agung.



Aku membaca surat itu sekali lagi. Air mataku menetes tanpa kusadari. Kulipat kembali dan kumasukkan ke saku bajuku. Kupandangi jalan yang tadi ditempuh oleh Agung. Di ujung jalan, gelap. Tapi aku bisa lihat jelas jejak yang ditinggalkannya. Cukup lama. Lalu aku berbalik pulang, bersama perasaan yang campur aduk dan misteri yang mengekor di belakangku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar