Bu Anita sangat piawai dalam mengajar. Namun setiap dia mengajar selalu meminta muridnya, terutama Siska, ketua kelas III C untuk menyediakan kursi lain sebagai tempat duduknya. Padahal kursinya sudah tersedia, yaitu di belakang meja guru. Tasnya juga tidak disimpan di sana, tapi di meja murid paling depan. Ulah guru matematika itu mengundang pertanyaan besar bagi Siska. Karena guru lainnya tidak berulah seperti itu.
Waktu istirahat Siska mencoba menduduki kursi itu. Namun tiba-tiba keanehan muncul. Taplak meja guru tersebut terbuka dengan sendirinya. Siska terkejut. Namun belum sempat dia tersadar, keanehan lain muncul. Permukaan meja itu penuh dengan darah. Kejadian itu disampaikan pada Melly dan Mona. Kedua teman dekat Siska itu penasaran dan mencoba menduduki kursi itu. Kejadian yang sama muncul, membua keduanya yakin.
Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan seorang wanita, seusia Bu Anita dengan seragam guru. Wanita itu mengucapkan terima kasih, karena Siska telah mencoba duduk di kursi guru. Berikutnya, wanita itu meminta agar Siska mau membantunya. Pagi harinya Siska menceritakan mimpinya. Ternyata mimpi itu dialami juga oleh Melly dan Mona. Mimpi itu mengundang pertanyaan besar bagi Siska, Melly dan Mona. Ketiganya yakin bahwa meja guru itu menyimpan misteri.
Rasa penasaran muncul. Ketiganya sepakat untuk mencari jawabannya. Namun mereka tidak tahu apa yang dilakukan. Hasil diskusi, mereka merencanakan untuk mencoba duduk di kursi itu lagi. Saat melaksanakan rencana itu, keanehan lain muncul. Tak hanya darah, tetapi juga dalam tersebut duduk seorang wanita dengan tubuh lunglai dengan kepala di meja yang dipenuhi darah. Ketiganya semakin yakin bahwa meja itu memang menyimpan misteri.
Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan wanita yang sama. Dalam mimpi itu, selain meminta bantuan kepada Siska juga memberikan sebuah jalan untuk mengungkap misteri itu. Sebuah file yang tersimpan di komputer ruang guru. Paginya Siska menceritakan mimpi itu pada Melly dan Mona. Keduanya juga bermimpi yang sama. Hasil diskusi mereka sepakat untuk membuka file tersebut. Sebuah rencana telah disusunnya.
Sore hari, setelah Mang Diman menyimpan kunci di ruang administrasi, Siska mengambilnya. Malam harinya, Siska, Melly dan Mona beraksi. Ketiganya masuk ke sekolah melalui sebuah jalan. Tanpa diketahui Mang Diman yang kebetulan sedang ngontrol, mereka masuk ke ruang guru, kemudian menghidupkan komputer. Namun mereka bingung, karena file itu tidak ditemukan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kemunculan seorang wanita yang datang dalam mimpinya. Wanita itu muncul untuk menunjukan filenya.
Sampai di rumah mereka membuka file itu yang disimpan dalam flashdisk. Misteri meja guru terungkap. Darah pada meja adalah darah Bu Astri yang dibunuh Mang Diman. Penjaga sekolah itu sengaja disuruh Bu Anita untuk membubuhkan racun ke dalam gelas minum Bu Astri. Bu Anita tahu kalau wanita yang konon telah merebut pacarnya itu selalu meminum usai pelajaran berakhir. Sampai kini semua guru tidak mengetahui keberadaan Bu Astri. File ini ditulis karena Bu Astri mengetahui rencana pembunuhan itu.
Siska, Melly dan Mona menyerahkan hard copy kepada kepala sekolah. Kepala sekolah baru mengetahui kalau perebutan pacar antara Bu Anita dan Bu Astri dulu berbuntut dengan pembunuhan. Kini Bu Anita dan Mang Diman harus menanggung seluruh perbuatannya. Kepala sekolah akan mengambil tindakan tegas setelah keduanya terbukti bersalah dalam pengadilan nanti. Bahkan seluruh muridpun berdemo untuk tidak menerima Bu Anita lagi.
================= SELESAI ======================
Waktu istirahat Siska mencoba menduduki kursi itu. Namun tiba-tiba keanehan muncul. Taplak meja guru tersebut terbuka dengan sendirinya. Siska terkejut. Namun belum sempat dia tersadar, keanehan lain muncul. Permukaan meja itu penuh dengan darah. Kejadian itu disampaikan pada Melly dan Mona. Kedua teman dekat Siska itu penasaran dan mencoba menduduki kursi itu. Kejadian yang sama muncul, membua keduanya yakin.
Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan seorang wanita, seusia Bu Anita dengan seragam guru. Wanita itu mengucapkan terima kasih, karena Siska telah mencoba duduk di kursi guru. Berikutnya, wanita itu meminta agar Siska mau membantunya. Pagi harinya Siska menceritakan mimpinya. Ternyata mimpi itu dialami juga oleh Melly dan Mona. Mimpi itu mengundang pertanyaan besar bagi Siska, Melly dan Mona. Ketiganya yakin bahwa meja guru itu menyimpan misteri.
Rasa penasaran muncul. Ketiganya sepakat untuk mencari jawabannya. Namun mereka tidak tahu apa yang dilakukan. Hasil diskusi, mereka merencanakan untuk mencoba duduk di kursi itu lagi. Saat melaksanakan rencana itu, keanehan lain muncul. Tak hanya darah, tetapi juga dalam tersebut duduk seorang wanita dengan tubuh lunglai dengan kepala di meja yang dipenuhi darah. Ketiganya semakin yakin bahwa meja itu memang menyimpan misteri.
Malam harinya, Siska bermimpi kedatangan wanita yang sama. Dalam mimpi itu, selain meminta bantuan kepada Siska juga memberikan sebuah jalan untuk mengungkap misteri itu. Sebuah file yang tersimpan di komputer ruang guru. Paginya Siska menceritakan mimpi itu pada Melly dan Mona. Keduanya juga bermimpi yang sama. Hasil diskusi mereka sepakat untuk membuka file tersebut. Sebuah rencana telah disusunnya.
Sore hari, setelah Mang Diman menyimpan kunci di ruang administrasi, Siska mengambilnya. Malam harinya, Siska, Melly dan Mona beraksi. Ketiganya masuk ke sekolah melalui sebuah jalan. Tanpa diketahui Mang Diman yang kebetulan sedang ngontrol, mereka masuk ke ruang guru, kemudian menghidupkan komputer. Namun mereka bingung, karena file itu tidak ditemukan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kemunculan seorang wanita yang datang dalam mimpinya. Wanita itu muncul untuk menunjukan filenya.
Sampai di rumah mereka membuka file itu yang disimpan dalam flashdisk. Misteri meja guru terungkap. Darah pada meja adalah darah Bu Astri yang dibunuh Mang Diman. Penjaga sekolah itu sengaja disuruh Bu Anita untuk membubuhkan racun ke dalam gelas minum Bu Astri. Bu Anita tahu kalau wanita yang konon telah merebut pacarnya itu selalu meminum usai pelajaran berakhir. Sampai kini semua guru tidak mengetahui keberadaan Bu Astri. File ini ditulis karena Bu Astri mengetahui rencana pembunuhan itu.
Siska, Melly dan Mona menyerahkan hard copy kepada kepala sekolah. Kepala sekolah baru mengetahui kalau perebutan pacar antara Bu Anita dan Bu Astri dulu berbuntut dengan pembunuhan. Kini Bu Anita dan Mang Diman harus menanggung seluruh perbuatannya. Kepala sekolah akan mengambil tindakan tegas setelah keduanya terbukti bersalah dalam pengadilan nanti. Bahkan seluruh muridpun berdemo untuk tidak menerima Bu Anita lagi.
================= SELESAI ======================


Tidak ada komentar:
Posting Komentar